OLEH SURYANTO GUNAWAN
Dimana
ada kopi disitu ada rokok, keduanya sulit untuk dipisahkan, ibarat
pribahasa lama yang mengatakan ada gula ada semut. Apalagi menikmati
keduanya di waktu yang bersamaan.
Isapan
sebatang rokok dan hembusan asap yang keluar dari mulut turut disertai dengan
serutan secangkir kopi hitam memudarkan cuaca dingin di saat itu.
Yah”
kebutulan siang kamis (12/03), cuaca sedang tidak bersahabat, guyuran hujan
lebat disertai angin kencang menuntun saya singgah di salah satu pojokan kopi
yang berada di Kota Pontianak. Tampilan Warung Kop (WK)nya cukup sederhana,
dilengkapi dengan jaringan Wifi gratis. WK Merdeka sapaan akrap para
pelanggan di sini. Kebutulan letaknya yang berada di Jalan Merdeka
sehingga mereka lebih mengenalnya dengan nama tersebut.
Saya
memilih bangku yang letaknya berada di tengah, belum sempat duduk, saya yang
ketika itu bersama Deri, teman sekantor saya dulu, sudah di hampiri oleh
pelayan WK. “ Mau pesan apa bg,” Tanya sang pelayan yang merupakan pemilik WK
tersebut. Setelah berpikir beberapa detik kami berdua memutuskan untuk memesan
kopi hitam saring yang menjadi andalan tempat ini.
Tidak
ada yang berbeda dengan kopi – kopi di tempat lain, bentuk dan warnanya tetap
cair dan hitam, begitu juga dengan rasanya. Saat itu hujan semakin lebat
dan pesanan kopi kamipun telah tiba, Deri pun bergegas mengeluarkan sebatang
rokok dari kotaknya, korek api kayupun langsung dihidupkan dan diarahkan ke
ujung rokok yang telah berada di mulutnya.
Seketika
itu isapan rokok dibalas dengan hembusan asap yang mengepul lanmgsung keluar
dari mulutnya. iapun langsung menyerut secangkir kopi hitam. “ Surga dunia”
kata itu yang seketika keluar dari mulutnya. Saya yang kebutulan bukan perokok
aktif merasa penasaran dan bertanya kepadanya, apa enaknya merokok
ditemani dengan secangkir kopi.
“
Ada semut ada gula, ada rokok ada kopi, itu pasangannya,” ucap Deri sambil
menyerut secangkir kopinya kembali. Saya yang belum puas dengan jawaban itu,
mencoba melihat orang – orang yang kebutulan sedang santai di WK tersebut.
Satu
persatu penggujung di tempat ini saya perhatikan, teryata memang benar, saat
mereka merupakan perokok pesanannya adalah secangkir kopi. Meskipun bukan
kopi hitam menjadi pilihannya.
Bahkan
para perokok tersebut, tidak segan-segan untuk kembali memesan secangkir
kopi jika masih ingin menikmati secangkir kopi. Rasa penasaran saya tidak
berhenti saat itu, saya mencoba bertanya kepada abang-abang yang bersebelahan
dengan meja kami.
Kebutulan
ia merupakan perokok aktif, jawaban yang saya dapat tetap sama. “Temannya
rokok ya kopi, temanya kopi ya rokok,” celetuk abang yang sedang sibuk dengan gadget
di tanganya.


Saya pecinta kopi.....tapi dilematis. Saya tidak merokok. Kebetulan sekali warkop yg sy sukai adalah warkop warkop terbuka, dimana asap rokok bebas merasuk ke sepenjuru ruang warkop, termasuk masuk ke paru paru pengunjung warkop, terutama pengunjung yg tidak merokok.......Kapan ya aming coffee menyediakan ruang bagi para penikmat kopi yg tidak merokok........
ReplyDelete